Hatta P. Achmad Saputra

Home » Article » Ini Bedanya Kerja Ala Jokowi dengan Kerja Ala Sayidina Umar Ibn Khattab

Ini Bedanya Kerja Ala Jokowi dengan Kerja Ala Sayidina Umar Ibn Khattab

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 1,245 other followers

image

Suatu ketika khalifah Umar ibn Khattab mengumumkan bahwa beliau membutuhkan seseorang untuk suatu jabatan penting didalam pemerintahannya, beliau didatangi oleh seorang sahabat yang memberikan rekomendasi bagi orang lain untuk menduduki jabatan tersebut, lalu, khalifah Umar pun bertanya dan terjadilah dialog diantaranya

“Apakah ia tetanggamu, yang engkau kenal dari dekat” kata khalifah bertanya.

” tidak,” jawab orang ini.

“Apakah engkau pernah berdagang atau melakukan hubungan bisnis dengan dia?”. Tanya sang khalifah kembali.

“Belum pernah ya amirul mukminin”, jawab orang itu.

” Apakah engkau pernah musafir (mengadakan perjalanan yang jauh) bersama orang ini?”. Khalifah bertanya lagi.

“Belum pernah”, jawabnya kembali orang itu.

“Jadi bagaimana engkau tau mengenai orang ini, sehingga engkau berani merekomendasikannya untuk menduduki jabatan ini”. Tukas sang khalifah.

“Aku sering melihat dia shalat dimasjid, dan kelihatannya sangat khusyu’ dan wirid-annya sesudah shalat paling panjang bila dibandingkan dengan jamaah yang lain”, jelas orang ini kembali.

“Aku tidak bisa menerima rekomendasi berdasarkan pengamatan tentang hubungannya dengan Allah semata, yang tidak mungkin dinilai oleh orang lain”. Tegas khalifah Umar ibn Khattab.

Dari dialog diatas dapat disimpulkan bahwa hubungan seseorang yang baik dengan Allah tidaklah mungkin diukur oleh orang lain, kecuali oleh orang yang bersangkutan, namun cerminan dari kedekatan hubungan seseorang dengan sang khaliq dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain  terutama oleh orang yang terlibat langsung dengan yang bersangkutan.

Namun demikian menjaga hubungan baik dengan sang khaliq saja tidak serta merta menjadi jaminan atas hubungan baik dengan sesama manusia lainnya, didalam pergaulan sehari-hari nyata bahwa syarat kedua yaitu hubungan baik dengan sesama merupakan syarat yang bisa jadi sangat sulit, namun sangat dibutuhkan jika kita ingin lepas dari kehinaan.

Karena lebih banyak orang yang gagal didalam hubungan baik dengan sesama manusia ketimbang memelihara hubungan baik dengan sang khaliq tidak jarang menjadikan orang tersebut ter-marginal-kan dari kehidupan normal dimasyarakat yang akhirnya seluruh potensi diri yang diberi sang khaliq sebagai bekal hidup didunia tidak di optimalkan

Padahal kita sama mengetahui bahwa untuk membuka pintu rezeki salah satunya adalah dengan cara membuka dan memelihara hubungan baik dengan sesama manusia. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 112, yang dalam terjemahan bebasnya sebagaimana berikut :
“Kehinaan akan ditimpakan walau dimana pun mereka berada, kecuali jika mereka mempunyai hubungan baik dengan Allah dan hubungannya dengan manusia…”

Jadi mari saat ini kita menjaga hubungan baik kita kepada Allah dengan serta merta menjaga pula hubungan baik kita kepada sesama manusia, Insyaallah perbaikan rezeki dan kehidupan kita akan segera terjadi…aamiin.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: