Hatta P. Achmad Saputra

Home » Article » Sekilas tentang Sunnah Nabawiyah

Sekilas tentang Sunnah Nabawiyah

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 1,245 other followers

image

Sunnah nabawiyah bukanlah masalah klasik, karena sunnah akan selalu relevan sepanjang zaman. Sunnah dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Dan barang siapa melakukan sunnah dengan keyakinan bahwa ia mengamalkan sunnah nabi, maka ia mendapatkan nilai lebih didunia pun diakhirat.

Dari segi bahasa (lughawi), sunnah artinya jalan yg dilalui, baik itu jalan yg terpuji ataupun jalan yg tercela, ada sunnah yg baik dan ada sunnah yg jelek, sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Barangsiapa membuat sunnah yg baik dalam Islam, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yg mengamalkannya sesudahnya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Dan barangsiapa membuat sunnah yg jelek dalam Islam maka dia berdosa dan menanggung dosa orang yg mengerjakannya sesudahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun. (HR. Muslim)

Dari istilah, sunnah adalah apa saja yg berasal dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, baik berupa perkataan, perbuatan ataupun ketetapan, dalam pandangan ulama hadist bahwa sirah beliau (Rasulullah SAW)  semenjak lahir hingga wafatnya serta sifat2 kepribadian beliau juga merupakan bagian dari sunnah.

Mayoritas sunnah adalah sunnah qauliyah (perkataan) sebagaimana tersusun dalam kitab2 hadist, sedangkan sunnah fi’liyah (semua aktifitas keseharian nabi SAW) dan sunnah taqririyah (perbuatan yg dilakukan oleh para sahabat pada masa Nabi SAW, dimana Nabi SAW mengetahuinya namun beliau hanya diam saja, tidak melarang dan tidak menyuruh) dan beliau tidak pernah mendiamkan suatu kebathilan atau mendiamkan sesuatu kecuali sesuatu yg benar.

Dr. Yusuf Al Qardhawi mengatakan ” bahwa sunnah fi’liyah dan sunnah taqririyah tidak menunjukkan lebih dari sekedar masyru’iyah (Suatu perbuatan yg ada dalilnya dlm Al Quran ataupun Sunnah). Sebab Rasulullah SAW tidak akan melakukan perbuatan yg haram dan mendiamkan perbuatan yg bathil, jika tampak bahwa suatu perbuatan yg dilakukan Rasulullah SAW adalah dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, maka hukum mengikutinya adalah istihbab (disukai).

Demikian sekilas tentang sunnah Nabawiyah, kiranya patut kita renungkan dan menerapkan dalam aktifitas kehidupan kita, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm Al Quran Surat Ali Imran ayat 31 :
“Katakanlah, jika kamu (benar2) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: