Hatta P. Achmad Saputra

Home » Article » Yesus adalah Tuhan ? Bag. 1

Yesus adalah Tuhan ? Bag. 1

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 1,245 other followers

Telaah kritis atas video Kesaksian Murtadin : Sura 43:61 – Yesus adalah Tuhan.

YesusPada minggu lalu perhatian saya tertarik pada salah satu link youtube dengan judul Kesaksian Murtadin : Sura 43:61 – Yesus adalah Tuhan, dimana video yang diupload berbicara mengenai Yesus sebagai Tuhan dengan merujuk surat Az Zukhruf ayat 61. Link tersebut di perlihatkan kepada saya oleh seorang teman dekat yang memang beragama Kristen, teman saya ini bertanya dalam rangka konfirmasi dan klarifikasi kepada saya selaku muslim.

Nah hal inilah yang menjadikan saya tertarik untuk membahas masalah Ketuhanan Yesus, yang sebenarnya perdebatan pada masalah ini sudah terjadi berabad – abad tahun yang lalu namun hingga saat ini tetap menjadi topic yang hangat, kenapa ?, sebab menyangkut keyakinan yang sangat fundamental bagi teman – teman Nasrani dan sangat dimaklumi pula bahwa ada keberatan dari para penganut Nasrani terhadap penganut Muslim dikarenakan klaim tersebut dimentahkan oleh para penganut Muslim dengan menyakini bahwa Yesus atau Isa tidak lain hanyalah hamba pilihan Tuhan bagi penyampaian risalah-Nya di muka bumi sebagaimana Rasul – Rasul sebelumnya.

Saya tidak akan membahas persoalan theologi mengenai ke Tuhanan Yesus secara mendalam dan detil, karena menurut saya pembahasan mengenai hal tersebut sudah banyak dibahas oleh sarjana-sarjana yang memang memiliki kompetensi yang tidak diragukan lagi, baik sarjana dari kalangan Muslim, sarjana Kristen (internal Kristen sendiri) maupun sarjana-sarjana dari luar kedua agama ini,  yang dianggap lebih objektif, banyak dari kalangan mereka adalah atheis. Karya tulis dan hasil penelitian mereka telah banyak beredar dan terdapat ribuan artikel yang mudah di akses melalui internet.

Saya mencoba mengkritisi isi dari video pada link tersebut, menurut hemat saya perlu diluruskan, beberapa pernyataan, diantaranya pernyataan yang mempertanyakan “Apakah Muhammad sudah selesai melakukan misi Tuhan?”, ini lebih kepada bentuk peryataan dalam rangka mengarahkan opini , mengapa ?, jelas karena kemudian disusul jawaban dari pembuat video tersebut yang seolah – olah mewakili jawaban kaum Muslim yang mengatakan “Ya” lalu kemudian si pembuat video tersebut memberikan jawaban yang kontra dengan jawaban “Ya” tersebut, dengan “belum” yang di nisbatkan seolah-olah itu jawaban Rasulullah Muhammad S.A.W., yang kemudian opini kita diarahkan kepada statemen bahwa penyempurna misi atau risalah Tuhan adalah Yesus atau Isa AS yang diyakini sebagai Tuhan itu sendiri, yang akan turun kembali ke bumi menjelang hari kiamat, hal ini tanpa dasar dan ilmu pengetahun yang cukup.Baik akan saya jawab pertanyaan dan peryataan tersebut sekaligus meluruskan kekeliruan opini si pembuat video tersebut.

“Apakah Muhammad sudah selesai melakukan misi Tuhan ? ”,

Bagi setiap umat Muslim wajib meyakini dan mengabarkan bahwa Nabi Muhammad S.A.W. merupakan Nabi dan Rasul terakhir, tidak ada lagi nabi dan rasul setelah beliau wafat, hal ini merupakan keyakinan yang mendasar menyangkut aqidah umat Islam, karena si pembuat video tersebut merujuk kepada Al Qur’an, maka terlebih dahulu akan saya jawab berdasarkan Al Qur’an juga, yang merupakan kitab suci umat Islam dan merupakan rujukan utama dalam penyelesaian masalah kehidupan termasuk dalam hal ini. Allah S.W.T berfirman: Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi (khaatam al-nabiyyiin). Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.[QS Al Ahzab (33):40].

Imam Thabariy menafsir-kan ayat tersebut sebagai berikut, “Wahai manusia, sesungguh-nya Nabi Muhammad itu bukan-lah bapak dari Zaid bin Haritsah dan juga bukanlah bapak dari seorang di antara kalian (para sahabat) yang tidak dilahirkan (keturunan) dari Nabi Muhammad SAW, sehingga ia (Nabi Muhammad) diharamkan menikahi istri mereka, setelah mereka mencerainya. Akan tetapi, ia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi (khaatam al-nabiyyiin). Beliau adalah penutup kenabian (nubuwwah), sekaligus orang yang diberi cap kenabian. Atas dasar itu, kenabian (nubuwwah) tidak akan dibukakan kepada seorang pun setelah beliau SAW, hingga hari kiamat”.[Imam Thabariy, Tafsir al-Thabariy, juz 20, hal. 278]

Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Ayat ini merupakan nash (dalil) yang menunjukkan tidak adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Jika tidak ada nabi setelah beliau SAW, lebih-lebih lagi seorang rasul. Sebab, kedudukan risalah (menyampaikan risalah) lebih khusus daripada kedudukan nubuwwah (kenabian). Pasalnya, setiap rasul adalah nabi, tidak sebaliknya. Oleh karena itu, masalah ini telah disebutkan oleh hadits-hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh mayoritas sahabat dari Nabi SAW. [Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, surat Al Ahzab (33):40]

Imam Al Baghawiy di dalam Tafsir Al-Baghawiy menuturkan, “Sesungguhnya, dengan diutusnya Nabi Muhammad S.W.T, Allah S.W.T telah menutup pintu kenabian. Imam ‘Ashim membacanya dengan “khaatam” (huruf ta’-nya difathah), sehingga kedudukannya sebagai isim. Ini bermakna beliau adalah akhir dari para Nabi. Ulama lain membacanya dengan “khaatim”, sehingga kedudukannya sebagai isim faa’il.  Sebab, beliau adalah penutup para Nabi”. [Imam al Baghawiy, Tafsir al-Baghawiy, juz 6, hal. 358]

Sahabat Rasulullah S.A.W Ibnu Abbas ketika menjelaskan Q.S. Ahzab : 40 diatas menyebutkan: dengan Nabi Muhammad S.A.W., Allah telah menutup nabi-nabi yang sebelumnya, maka tidak akan ada nabi baru sesudahnya (Tanwir al Miqbas Min Tafsiri Ibni Abbas). Sedangkan menurut Ibnu al ‘Arabi rahimahullah dalam Ahkamul Quran (3/473) dan Al-Imam Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir (4/476), bahwa khatamun nabiyyin adalah akhir mereka (para nabi).

Penafsiran senada juga diketengahkan oleh para ulama tafsir, semisal, Imam Qurthubiy, Imam Nasafiy, Imam Ibnu Taimiyyah, Imam Baidlawiy, Imam al-Baghawiy, dan lain sebagainya.  Atas dasar itu, kata “khaatam” yang terdapat di dalam surat Al Ahzab ayat 40 tidak mungkin ditafsirkan dengan penafsiran lain, selain “penutup para nabi, atau nabi pamungkas (terakhir)”.

Diperkuat Hadits Mutawatir

Pengertian ayat di atas juga diperkuat oleh hadits-hadits yang menuturkan tertutupnya risalah dan kenabian. Menurut Imam Ibnu Katsir, riwayat-riwayat yang berbicara mengenai tertutupnya risalah dan kenabian setelah wafatnya Nabi Muhammad S.A.W adalah mutawatir. Diantara riwayat-riwayat tersebut adalah sebagai berikut :

Imam Tirmidzi mengetengahkan sebuah riwayat dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah S.A.W bersabda: “Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada rasul dan nabi sesudahku.”[HR. Turmudzi, juz 3, hal. 364]

Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah S.A.W bersabda, “Adalah Bani Israil, urusan mereka senantiasa diatur oleh para nabi, setiap nabinya telah wafat, maka akan diganti nabi yang lain.  Akan tetapi, tidak ada nabi sesudahku, yang ada adalah para khalifah dan jumlahnya sangat banyak.” [HR. Imam Bukhari, juz 2, hal. 175]

Jadi jelas bagi kami umat Islam bahwa tidak akan ada lagi Nabi dan Rasul atau pembawa risalah misi Tuhan setelah Nabi Muhammad S.A.W wafat. Yang berarti bahwa misi Tuhan sudah disempurnakan oleh Nabi Muhammad S.A.W. yaitu dengan mu’jizat terbesarnya Al Qur’an sebagai petunjuk bagi orang yang mau mencari kebenaran dan sebagai koreksi atas kitab-kitab suci sebelumnya termasuk dalamhal ini Al Kitab (Injil) bukan sebaliknya. Allah S.W.T berfirman “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”. (QS. 5:48)

Dalam surat yang lain Allah S.W.T berfirman : “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. 16 :64)

Dalam kesempatan yang lain insya Allah saya akan mencoba membahas masalah urgensi turunnya Al Qur’an terhadap kitab – kitab suci sebelumnya dan hal-hal yang membenarkan statemen Al Qur’an tentang telah terkontaminasinya sebagian besar isi AlKitab (Injil).

Melacak Nubuwat Nabi Muhammad dalam Al Kitab (Injil) :

Sementara itu, kira-kira adakah nubuwat Nabi Muhammad S.A.W. yang diyakini oleh umat Islam sebagai penutup para nabi dan penyempurna risalah Tuhan dalam AlKitab (Injil), mari kta coba telusuri ramalan kedatangan Nabi Penyelamat umat manusia menurut tafsiran Alkitab (Injil).

Munculnya kitab kuno di Turki pada Februari 2012, yang diyakini sebagai Injil Barnabas, membuat perdebatan di dunia internasional makin panas. Namun, perdebatan masih berkutat soal klaim benar tidaknya kitab itu sebagai Injil Barnabas. Adu pendapat belum masuk ke ranah isi kitab yang memang belum diterjemahkan oleh pemerintah Turki.

Injil Barnabas versi Turki ini ditulis di atas kulit hewan yang berwarna cokelat kehitaman. Penulisnya menggunakan tinta dari emas dan isinya dalam bahasa Aramaic, bahasa yang diperkirakan bahasa ibu Yesus Kristus. Umur kitab ini diduga mencapai 1.500 tahun.

Munculnya Injil Barnabas di Turki yang ternyata berbahasa Aramaic menjadi penting karena bisa jadi inilah kitab yang lebih tua dari dua kitab sebelumnya. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay, juga percaya kalau kitab Bernabas asal Turki ini adalah versi asli Injil Barnabas.

Ada tiga versi Injil Barnabas, yakni Injil Barnabas berbahasa Italia, Injil Barnabas berbahasa Spanyol, dan terakhir yang ditemukan di Turki. Manuskrip Injil Barnabas versi Spanyol hilang dari peredaran, namun sebagian teksnya muncul di transkrip pada abad ke-18.

Dari dua versi itu terungkaplah versi lain soal Yesus Kristus dan munculnya Islam serta Nabi Muhammad SAW. Itulah mengapa Injil Barnabas disebut ajarannya lebih pararel dengan Islam.

Dalam analisisnya, majalah Y-Jesus asal Amerika Serikat, menyatakan isi teks secara efektif menyangkal ke-ilahian Yesus dan menolak konsep trinitas, kepercayaan kristen yang mendefinisikan Allah dalam tiga pribadi, Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Laporan itu juga menyatakan dalam teks, Yudas Iskariot disebut sebagai orang yang mati disalib dan bukan Yesus. Sementara dalam Perjanjian Baru, Yudas disebut mengkhianati Yesus.

Perdebatan soal isi dua kitab Barnabas sebelumnya pun kembali marak setelah Injil Barnabas Turki muncul. Phil Lawler, editor Catholic World News (CWN), menyatakan, kitab Barnabas Turki dapat saja diterima. Namun, karena manuskrip itu belum diterjemahkan, tidak ada yang tahu persis apa isi dari kitab itu.

Phil mengatakan, satu media Iran, Basij, melaporkan penemuan Kitab Barnabas Turki ini. Oleh Basij disebutkan, Injil Barnabas Turki ditulis pada abad ke-5 atau ke-6 Masehi. Phil membantah keras pendapat ini. Argumen yang dia ajukan adalah, Barnabas hidup bersamaan dengan Yesus Kristus dan termasuk 12 muridnya.

“Ini pasti ditulis oleh seseorang yang mengaku mewakili Barnabas,” kata Phil, seperti dikutip Daily Mail.

Ramalan tentang datangnya Nabi Muhammad SAW yang tertulis dalam kitab Barnabas sebelumnyna juga ia sangkal. Sebab, menurut Phil, aspek penanggalan manuskrip itu sangatl penting. “Jadi apa yang Turki miliki sekarang adalah sebuah dokumen tua, tetapi kami meragukan kitab yang saat ini diperdebatkan,” kata Phil.

Teolog Turki, Omer Faruk Harman, mengatakan, untuk mengungkap berapa usia kitab Barnabas Turki itu perlu diadakan riset mendalam. “Scan ilmiah dari kitab mungkin satu-satunya cara untuk mengungkapkan berapa usia sebenarnya,” ujarnya kepada Todays Zaman. (Sumber : Kontributor Republika di Ankara, Turki)

Terlepas dari controversial mengenai injil Barnabas yang ditemukan di Turki tersebut, baiknya kita menggali dari Injil yang umum beredar di tengah–tengah masyarakat kita Indonesia, artinya akan ada pemahaman atas penafsiran yang mungkin jauh dari arti kata sesungguhnya, sebab sudah menjadi pengetahuan umum kalau bahasa kita (Bahasa Indonesia) sangat kurang pas atau sulit mencari padanan yang semakna dengan maksud aslinya dari bahasa lain seperti Inggris dan Arab apalagi kalau harus menterjemahkan bahasa Aramaic, yang menurut catatan sejarah sudah hilang dari peradaban.

Kalau kita mau merujuk kepada Al Qur’an (khususnya bagi teman-teman Nasrani), kita akan menemukan korelasi antara Injil dengan Al Qur’an tentang nubuwat kenabian Muhammad ini, mungkin, terkesan terlalu memaksakan penafsiran dan tidak konsistennya umat Islam (menurut kalangan Nasrani), kalau mengatakan bahwa sesungguhnya AlKitab juga menubuwatkan kedatangan Nabi Muhammad, karena menurut keyakinan Islam bahwa sebagin besar isi AlKitab telah terkontaminasi dengan berbagai kepentingan oleh para pemuka–pemuka mereka terdahulu.

Namun tidaklah demikian apabila kita menilainya dari sisi ilmiah dan objektifitas, dalam hal ini yang saya maksud adalah upaya pencarian kebenaran dengan melakukan perbandingan, karena dalam Al Qur’an pun Yesus atau Isa AS mendapatkan kedudukan yang mulia pula.

Nabi Musa menubuwatkan kedatangan Nabi Muhammad S.A.W.

Nubuat :

(15) Bahwa seorang Nabi dari tengah-tengah kamu, dari antara segala saudaramu, dan yang seperti aku ini, yaitu akan dijadikan oleh Tuhan Allahmu bagi kamu, maka Dia patutlah kamu dengar.

(16) Setuju dengan segala yang telah kamu pinta kepada Tuhan Allahmu di Horeb, pada masa orang banyak itu ada berhimpun, katamu: Jangan kiranya kami mendengar pula bunyi suara Tuhan Allah kami dan api yang besar ini jangan kiranya kami lihat lagi, supaya jangan kami mati!

(17) Maka pada masa itu berfirmanlah Tuhan kepadaku: Benarlah kata mereka itu:

(18) Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang Nabi dari antara segala saudaranya, yang seperti engkau; dan Aku akan memberi segala firmanku dalam mulutnya dan iapun akan mengatakan kepadanya segala, yang kusuruh akan dia.

(19) Bahwa sesungguhnya barangsiapa yang tiada mau dengar akan segala firmanku, yang akan dikatakan olehnya dengan Namaku, niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang itu.

(20) Tetapi adanya Nabi yang melakukan dirinya dengan sombong dan mengatakan firman dengan Namku, yang tiada kurusuh katakan, atau yang berkata dengan nama dewa-dewa, niscaya orang nabi itu akan mati dibunuh hukumnya.

(21) Maka jikalau kiranya kamu berkata dalam hatimu demikian: Dengan apakah boleh kami ketahui akan perkataan itu bukannya firman Tuhan adanya ?

(22) Bahwa jikalau nabi itu berkata dengan Nama Tuhan, lalu barang yang dikatankannya itu tiada jadi atau tiada datang, yaitulah perkataan yang bukan firman Tuhan adanya, maka nabi itupun telah berkata dengan sombongnya, janganlah kamu takut akan dia. (Ulangan 18:15 – 22)

Ayat-ayat diatas ini adalah perkataan Nabi Musa yang diucapkannya dihadapan Bani Israil, tersebut dalam kitab Ulangan atau Taurat. Menurut keterangan Nabi Musa itu, Tuhan telah berjanji kepada Bani Israil akan menjadikan seorang Nabi dari antara segala saudaranya yang seperti Musa. Penulis-penulis dari kalangan umat Islam menafsirkan ayat tersebut bahwa Nabi yang dijanjikan Tuhan itu ialah Nabi Muhammad s.a.w., mengapa ? sebab setelah Nabi Musa menyampaikan janji itu, Bani Israil telah menunggu-nunggu kedatangan Nabi tersebut, sebagaimana penjelasan Injil Yahya (Yohanes) pasal 1 yang berikut:

(19) Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?”

(20) Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.”

(21) Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!”

Soal jawab diatas ini terjadi ketika Nabi Yahya (Yohanes) datang sebagai utusan Tuhan. Orang-orang Yahudi menyuruh utusannya datang menemui Nabi Yahya (Yohanes) dalam rangka bertanya, siapakah dia. Dari tanya-jawab itu ternyata bahwa orang-orang Yahudi pada waktu kedatangan Nabi Yahya (Yohanes) itu masih menunggu-nunggu kedatangan tiga orang yang telah dijanjikan Tuhan, yaitu: Kristus, Elias dan Nabi itu.

Masih dalam Injil Yahya (Yohanes) pasal 1 tersebut lagi:

(24) Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.

(25) Mereka bertanya kepadanya, katanya: “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?”

Pertanyaan orang Parisi kepada Nabi Yahya (Yohanes) diatas ini menunjukkan juga bahwa orang Yahudi dizaman Nabi Yahya (Yohanes) masih menunggu kedatangan tiga orang yang tersebut tadi, yaitu: Kristus, Elias dan Nabi itu.

Diantara pertanyaan yang dimajukan utusan itu masih disebut: “Engkaukah Nabi itu?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa Nabi “itu”, yakni Nabi yang ditunggu-tunggu orang Yahudi kedatangannya karena telah dinubuatkan Nabi Musa, masih belum datang hingga pada zaman Nabi Yahya (Yohanes), karena mereka masih menanyakan kepadanya Nabi Yahya (Yohanes) hidup semasa dengan Isa (Yesus).

Menurut kepercayaan Kristen, Kristus itu telah datang yaitu Nabi Isa atau Yesus. Dan menurut Injil, Elias itu juga telah datang, yaitu Nabi Yahya (Yohanes) itu sendiri. Yesus memberi keterangan menurut Injil sebagai berikut:

Mat. 11 : 13 Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yahya (Yohanes).

Mat. 11 : 14 dan — jika kamu mau menerimanya — ialah Elia yang akan datang itu.

Masih menurut Injil Matius pasal 17 diterangkan bahwa :

(12) dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.

(13) Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.

Dari keterangan diatas ini diketahui bahwa menurut Injil dua dari tiga orang yang ditunggu-tunggu mereka kedatangannya itu telah datang, yaitu Kristus dan Elias. Yang masih belum datang, seorang lagi yaitu: “Nabi itu“. Dengan demikian diketahui bahwa Nabi itu masih belum datang hingga pada zaman Nabi Yahya (Yohanes) dan Isa (Yesus), Dan kedatangannya itu diketahui dari keterangan diatas sesudah zaman Nabi Yahya dan zaman Yesus. Hal ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. karena ia datang sesudah zaman mereka yang tersebut.

Apakah tanda Nabi itu? Dalam keterangan yang telah dikemukakan diatas, disebutkan: “Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang Nabi dari antara segala saudaranya, yang seperti engkau“. Keterangan ini menyatakan bahwa Nabi yang akan dijadikan itu, ialah: “Dari antara segala saudaranya”, yaitu dari antara segala saudara Bani Israil. Dan “yang seperti engkau”, yaitu yang seperti Nabi Musa.

Penafsiran dari pernyataan tersebut ialah Nabi yang akan datang bukan berasal dari Bani Israil melainkan berasal dari Saudara Bani Israil. Dalam kitab Kejadian pasal 16 dan pasal 17 diterangkan bahwa Nabi Ibrahim telah mendapat seorang anak dari Hagar, dinamai ismail. Kemudian Nabi Ibrahim mendapat anak lagi dari Sarah, dinamai Ishak, seterusnya Ishak mendapat anak dari isterinya Ribkah, dinamai Yakub. (Lihat Kejadian 25:26). Kemudian Tuhan mengganti nama Yakub dengan Israil. (Lihat Kejadian 35:10). Turunan Nabi Ibrahim dari anaknya Ismail disebut Bani Ismail. Dan turunnya dari cucunya Israil (Yakub) disebut Bani Israil. Berdasarkan keterangan ini diketahui bahwa Bani Ismail bersaudara dengan Bani Israil. Dengan demikian nyatalah bahwa tanda ini telah sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w., karena ia adalah turunan dari Bani Ismail yang bersaudara dengan Bani Israil. Dan seterusnya hal ini telah sesuai lagi dengan janji Tuhan yang menyatakan bahwa Ia akan menjadikan Ismail “suatu bangsa yang besar“. (Lihat Kejadian 17:20 dan 21:18).

Tanda yang kedua ialah Nabi itu seperti Nabi Musa. Tanda ini pun sesuai kepada Nabi Muhammad S.A.W. karena ia serupa dengan Nabi Musa. Mereka sama-sama ber-ibu dan ber-bapak. Sama-sama beristeri dan mempunyai anak. Sama-sama menjadi Nabi dan Rasul. Sama-sama mempunyai kitab suci, yaitu Taurat dan Al Qur’an. Sama-sama wafat tidak terbunuh. Sama-sama dikuburkan dibumi. Dan masih banyak lagi ke-sama-annya.

Firman Allah S.W.T dalam Al Qur’an : Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu seorang Rasul (Nabi Muhammad) yang menjadi saksi atas kamu, seperti Kami telah mengutus kepada Fir’aun seorang Rasul (Nabi Musa). (QS. Al Muzammil 15).

Ayat 15 ini menjelaskan bahwa Nabi itu akan dijadikan Tuhan “dari tengah-tengah kamu”. Yaitu dari tengah-tengah Bani Israil atau bangsa Yahudi. Keadaan ini bersesuaian kepada Nabi Muhammad s.a.w., karena Beliau memimpin pemerintahan dan menyebarkan risalah Tuhan berpusat dikota Madinah, dimana berada di tengah-tengah kampung-kampung orang Yahudi, yaitu suku Bani Nadlir, suku Bani Quraizhah dan suku Bani Qainuqa’

Dalam ayat Ul. 18 : 18 tersebut “Aku akan memberi segala firmanku dalam mulutnya”. ayat ini sangat bersesuaian pada kondisi Nabi Muhammad s.a.w. yang ummi (tidak pandai baca, tulis) sehingga Firman itu diberikan kepadanya berupa bacaan yang dihujamkan kedalam dada Nabi melalui malaikat Jibril yang datang membawa wahyu, membisikkan dan menuntun nabi untuk dilafalkan pada mulutnya, kemudian barulah ia perintahkan sahabatnya menuliskannya.

Dalam ayat Ul. 18 : 19 tersebut “segala firmanku, yang akan dikatakan olehnya dengan Namaku”. Ayat ini pun sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. karena Kitab suci Al Qur’an sebagai firman Tuhan telah dikatakannya dan dimulainya surah-surahnya sebanyak 113 surah dengan nama Tuhan, yaitu:

“Bismillahirrahmanirrihiim” artinya “Dengan nama Allah yang Pengasih yang Penyayang”.

Dalam ayat Ul. 18 : 20 tersebut “Nabi yang melakukan dirinya dengan sombong dan mengatakan firman dengan Namaku, yang tiada kusuruh katakan, atau yang berkata dengan nama dewa-dewa, niscaya orang Nabi itu akan mati dibunuh hukumnya”. Menurut keterangan ini Nabi yang tidak benar akan mati dibunuh hukumnya. Nabi Muhammad s.a.w. tidak mati dibunuh, maka nyatalah bahwa ia seorang Nabi yang benar.

Bahkan Al Qur’an telah memberikan jaminan bahwa ia tidak akan mati dibunuh manusia. Allah S.W.T berfirman “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. Al Maidah 67).

Sejarah mencatat bahwa musuh-musuh Islam berkali-kali mencoba membunuh Nabi S.A.W., pada setiap kesempatan, tetapi semuanya itu tidak berhasil. Tuhan telah memenuhi janji-Nya, Nabi Muhammad S.A.W. diselamatkan dari pembunuhan manusia, sesuai dengan janji yang telah disebutkan didalam Al Qur’an dan kitab Ulangan tadi.

Kemudian pada ayat Ul. 18 : 22 di tuliskan bahwa jikalau nabi itu berkata dengan Nama Tuhan, lalu barang yang dikatankannya itu tiada jadi atau tiada datang, yaitulah perkataan yang bukan firman Tuhan adanya, alias ber dusta atas nama Tuhan. Hal ini pun sangat jauh dari pribadi Nabi Muhammad S.A.W. Beliau dalam semua catatan sejarah yang di tulis bukan hanya oleh sarjana-sarjana muslim tetapi juga oleh sarjana-sarjana non muslim yang objektif adalah orang yang sangat terpercaya bahkan jauh sebelum dirinya di angkat oleh Tuhan menjadi Nabi dan Rasul-Nya, sehingga beliau dijuluki dengan gelar Al Amiin (yaitu orang yang amat sangat bisa dipercaya atau amanah). Dan setiap yang beliau ucapkan dalam hadist-hadist, baik mengenai perbuatan maupun mengenai gambaran tentang masa depan, telah dapat di buktikan faktanya saat ini berkat perkembangan technologi dan ilmu pengetahuan, kecuali fakta atau gambaran yang belum tiba saatnya seperti akan datangnya Dajjal, turunnya nabi Isa (Yesus) kembali ke dunia dan mengenai Imam Mahdi. Namun demikian menurut analisa ilmiah yang telah banyak dilakukan menunjukkan segala gambaran tersebut sangat mungkin terjadi hanya tinggal menghitung waktunya saja, umpamanya gambaran mengenai akan terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya, hal ini telah dilakukan penelitian dan analisa oleh NASA dan hasilnya sangat mencengangkan bahwa gambaran hadist tersebut sangat mungkin dan akan terjadi, bisa kita cari baik melalui buku-buku ilmiah maupun informasi melalui internet (saya akan tampilkan pada pembahasan yang lain).

Seperti telah saya tuliskan diatas bahwa akan selalu ada penolakan dan keberatan dari pihak Kristen atau teman-teman Nasrani akan gambaran atau tafsir nubuwat Kenabian Muhammad S.A.W apabila di nukil dari keterangan-keterangan ayat dalam Al Kitab, di bawah ini akan saya angkat juga pernyataan dan tafsir yang kontra dengan pemikiran atau tafsir yang telah dinukil diatas sebagai bentuk dari objektivitas dan tentunya akan melahirkan telaah kembali.

Keberatan dan Penolakkan dari Pihak Kristen :

  1. Pihak Kristen meyakini bahwa Nabi yang dijanjikan Tuhan dalam Ulangan 18:15 – 18 dan Kisah Rasul-Rasul 3:22 itu ialah Yesus Kristus. Pendapat ini kurang tepat bahkan salah sebab diatas telah diterangkan bahwa, Nabi yang akan dijadikan Tuhan itu adalah: “dari antara segala saudara Bani Israil” dan “yang seperti Musa”. Sementara menurut Injil sendiri, Yesus Kristus adalah turunan Bani Israil. Lihat silsilah turunannya dalam Injil Matius pasal 1 dan Injil Lukas pasal 3. Dalam Injil Matius 1:1 tersebut: “Maka inilah silsilah Yesus Kristus, yaitu anak Daud”. Daud adalah Bani Israil, sebab itu yesus Kristus adalah Bani Israil juga. Sedang Nabi yang akan dijadikan Tuhan itu bukan dari Bani Israil, tetapi dari antara segala saudara Bani Israil. Dengan demikian diketahui bahwa Nabi yang akan dijadikan itu bukan Yesus Kristus.
  2. Lalu Nabi yang dijadikan Tuhan adalah “yang seperti Musa”.

Dr. Mr. D.C. Mulder menulis: “Perlu diperhatikan disini peraturan tentang nabi dalam ps 18:15 – 22. Ayat-ayat ini sering ditafsirkan oleh penafsir-penafsir Kristen sebagai nubuat tentang Nabi Muhammad. Akan tetapi bagian ini tidak membicarakan seorang nabi yang khusus, melainkan jabatan nabi pada umumnya; diterangkan disini bagaimana seorang nabi benar dapat dibedakan dari pada seorang nabi palsu”.

Pendapat Dr. Mulder itu tidak benar. Ayat-ayat kitab Ulangan tersebut adalah menubuatkan kedatangan seorang Nabi yang khusus dengan menerangkan sifat-sifat dan tanda-tandanya sebagaimana telah kita telaah diatas. Orang Yahudi sendiri telah menunggu-nunggu kedatangannya hingga berabad-abad lamanya sesudah Nabi Musa seperti yang dinyatakan oleh ayat-ayat Injil sendiri. Nubuatan itu tidak diraggukan lagi adalah mengenai kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. Nyatalah bahwa Nabi yang dinubuatkan Nabi Musa dalam kitab Ulangan itu ialah Nabi Muhammad s.a.w., bukan Yesus.

Kemudian Nabi Musa menubuwatkan tempat kedatangan Nabi Muhammad S.A.W.

(1)    Inilah berkat yang diberikan Musa, abdi Allah itu, kepada orang Israel sebelum ia mati.

(2)    Berkatalah ia: “TUHAN datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus; di sebelah kanan-Nya tampak kepada mereka api yang menyala.

Menurut Syech Rahamatullah menerangkan dalam Izhar-ul Haqq 2:137 bahwa yang dimaksudkan dengan “Tuhan telah datang dari Torsina”, ialah Tuhan memberikan Taurat kepada Nabi Musa. Dan yang dimaksudkan dengan “telah terbit bagi mereka itu dari Seir”, ialah Tuhan memberi Injil kepada Isa (Yesus). Dan yang dimaksudkan dengan “kelihatanlah Ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran”, ialah Tuhan menurunkan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad s.a.w. Jadi “Torsina”, “Seir” dan “Paran” adalah nama tempat-tempat Nabi-nabi tersebut menerima ajaran dari Tuhan.

Gunung Paran ialah sebuah gunung di negeri Mekah. Dalam kitab Kejadian diceritakan tentang hal Hagar dengan anaknya Ismail sebagai berikut:

(19) Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.

(20) Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.

(21) Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir. (Kejadian 21 : 19-21)

sebagaimana ayat-ayat yang tersebut diatas ini, menceritakan tentang Hagar dengan anaknya, yaitu Nabi Ismail. Dalam ayat 21 diterangkan bahwa Ismail duduk dipadang gurun Paran. Menurut sejarah, Ismail tinggal duduk di negeri Mekah. Mata air yang dilihat Hagar itu ialah “mata air Zamzam” yang hingga kini terus menerus mengeluarkan airnya sebagai sebuah telaga di dekat Bait Allah didalam mesjid Mekah. George Zaidan, seorang pengarah Kristen Katolik di Mesir, menerangkan didalam bukunya “Al Arab gabl-al Islam” (Arab sebelum Islam), bahwa Paran itu adalah padang belantara Paran itu ialah negeri Mekah. Dan gunung Paran itu nama gunung di Mekah. lalu dalam kitab Habakuk 3: 3 “Allah datang dari negeri Teman dan Yang Mahakudus dari pegunungan Paran. Sela. Keagungan-Nya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepada-Nya”.

Dalam ayat ini dinyatakan lagi bahwa Yang Maha Suci datang dari pegunungan Paran, dan bumipun penuh dengan pujinya. Nabi Muhammad S.A.W. telah datang dari pegunungan Paran di tanah Mekah dan umat Islam telah memenuhi seluruh permukaan bumi dengan pujinya, sesuai dengan apa yang telah diterangkan dalam kitab Perjanjian Lama diatas.

Dalam injil Yahya (Yohanes), Yesus menubuwatkan Kenabian Muhammad S.A.W. sebagaimana berikut :

(15) “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

(16) Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

(17) yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

(26) tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. (Yahya 14 : 15-17,26)

(26) Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.

(27) Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.” (Yahya 15 : 26-27)

(7) Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.

(8) Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;

(9) akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;

(10) akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;

(11) akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.

(12) Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.

(13) Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

(14) Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.

(15) Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.” (Yahya 16 : 7-15)

Menurut keternagan Injil Yahya yang tersebut diatas ini, Yesus telah menubuatkan kedatangan “Penolong yang lain”. Penulis-penulis Islam telah menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan Penolong yang lain itu ialah Nabi Muhammad s.a.w. Namun terjemahan kata “penolong” itu sendiri telah banyak dirubah-rubah oleh Penterjemah Injil dari golongan Kristen. Dalam Alkitab (Bibel) bahasa melayu hurup Laten yang dicetak oleh Nederlandsch Bijbelgenotschap di Amsterdam tahun 1927 dan diterbitkan di Indonesia sebelum perang dunia II, kata “Penolong” itu diterjemahkan dengan “Penghibur”.

Dalam “Wasiat yang baharu” bahasa Melayu huruf Arab yang diterbitkan oleh Nederlandsch Bijbelgenotschap tahun 1889 diterjemahkan juga dengan “Penghibur”. Dalam Injil Yahya bahasa Arab perkataan itu diterjemahkan dengan “Al Mu’azzi” (Penghibur). Dalam terjemahan bahasa Arab yang lain disebutnya dengan “Faraqlieh”.

Dr. G.C. Niftrik/Ds. B.J. Boland dalam Dogmatika Masakini, menyebutnya dengan “Penghibur”. Dalam Alkitab yang diterbitkan Lembaga Alkitab Indonesia di Jakarta tahun 1958 menyebutnya dengan “Penolong”. Prof. Dr. J.H. Bavinck dalam Sejarah Kerajaan Allah II, menerangkan bahwa kata “Penolong” itu dalam bahasa Yunani ialah paraklétos”. Seterusnya katanya: “Orang Islam sering manafsirkan ayat itu pada Muhammad. Mereka itu katakan, bukan paraklétos = (Penolong) yang tertulis disana, tetapi periklutos (= yang termasyur, yang terpuji). Dalam bahasa Arab periklutos dapat disalin dengan Ahmed.”

Selanjutnya Dr. J. Verkuyl menulis lagi: “Kata Ahmad dalam bahasa Yunani ialah Periklétos”.

Mengenai nama-nama dalam Alkitab, selalu orang berhadapan dengan kesulitan, karena penulis-penulis Injil seringkali menterjemahkan nama-nama yang seharusnya ditulis dalam bahasa asli dan tidak diterjemahkan. Yesus berbicara dalam bahasa Ibrani, tidak dalam bahaya Yunani. Hal itu dapat dibuktikan dengan beberapa perkataan yang disebut atas nama yesus yang masih tercantum dalam Injil menurut bahasa aslinya. Misalnya Matius 27:46 menyebut perkataan Yesus: Eli, Eli lama Sabchtani”, yaitu dalam bahasa Ibrani.

Penterjemah-penterjemah Injil menterjemahkan nama-nama, yang seharusnya dituliskan menurut aslinya, menjadikan suatu nama yang benar-benar tidak pernah dikenal dizaman Yesus. Misalnya nama Simon yang disebut Yesus dengan Kepas (Yahya 1:42) yang berarti “karang” atau “batu”. Kemudian nama “Kepas” itu diterjemahkan kedalam bahasa Yunani dengan kata “Peterus” yang barti “batu”. Seterusnya disebut dalam Alkitab dan dalam kalangan kaum Kristen dengan sebutan “Peterus”. Yesus sendiri dan orang-orang dizaman Yesus tidak pernah mengenal seorang yang bernama Peterus sebagai murid Yesus, karena Yesus hanya menyebutnya dengan “Kepas”, tidak dengan “Peterus”.

Demikian pula mengenai Yesus sendiri. Ia tidak pernah menyebut dirinya “Kristus”. Dan orang-orang yang hidup pada zamannya tidak mengenal juga seorang yang disebut Kristus. Kata Kristus itu adalah terjemahan dari perkataan Ibrani Messias (Almasih) yang dalam bahasa Yunani disebut “Kristus”. Maka nama-nama yang asli itu telah ditinggalkan, lalu diganti dengan terjemahannya belaka.

Diantara nama-nama yang telah ditinggalkan itu ialah kata “Penolong” atau “Penghibur”, yang tersebut dalam Injil Yahya (Yohanes) pasal 14, 15 dan 16. Menurut pihak Kristen kata “Penolong” itu dalam bahasa Yunani “Paraklétos“. Di samping itu ada pendapat yang menyebut bahwa kata asalnya dalam bahasa Yunani “Periklétos“, yang artinya dalam bahasa Arab “Ahmad“, yaitu satu diantara nama Nabi Muhammad s.a.w. Sedang bunyi kata yang asli dalam bahasa Ibrani yang diucapkan Yesus dan kini diganti dengan sebutan “Paraklétos” atau “Periklétos”, tidak dapat diketahui lagi, karena Injil Yahya (Yohanes) yang menuliskan kata nubuatan yang diucapkan Yesus itu tidak menuliskannya dalam bahasa Ibrani. Adapun kemungkinan terjadi perubahan dalam membacakan bunyi beberapa huruf sehingga “Periklétos” (Ahmad) menjadi “Paraklétos”, tidaklah suatu hal yang mengherankan dalam Alkitab (artinya sering terjadi salah pengucapan dan terjemah).

Bagi orang yang suka membanding-bandingkan nama-nama yang tercantum dalam Alkitab, ia akan menjumpai sejumlah besar perubahan dalam menyebutkan sesuatu nama. Sebagai misal, dapatlah dilihat pada nama-nama yang tercantum dalam silsilah yesus.

Selanjutnya mungkin pula penyelewengan dalam penterjemahan telah terjadi. Sebagai contoh, kata “almah” dalam bahasa Ibrani yang tesebut dalam kitab Yesaya pasal 7 ayat 14 yang dihubungkan dengan Matius 1:23. Penulis Injil itu telah menterjemahkannya dengan “anak dara’ supaya dapat disesuaikan kepada Maryam ibu Yesus yang disebut melahirkan Yesus sebagai anak dara. Sedang arti yang sebenarnya “wanita muda” atau “anak perempuan yang dewasa“, baik ia sudah kawin atau tidak. Maka disini telah terjadi penyelewengan yang dilakukan penulis Injil itu dalam penterjemahan.

Selanjutnya, andai kata asal perkataan tersebut dalam bahasa Yunani Paraklétos dan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan “Penolong” atau “Penghibur” atau “seorang yang jadi pembela dalam suatu perkara dihadapan hakim”, seperti yang disebutkan oleh Dr. J. Verkuyl, nubuatan itu sesuai juga kepada Nabi Muhammad S.A.W. Sebab dalam nubuatan tersebut telah diterangkan berbagai sifat yang harus menyertai Penolong atau Penghibur itu. Sifat-sifat itu adalah sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Nabi Muhammad S.A.W. sebagai seorang Nabi yang datang sesudah Yesus, adalah seorang Penolong yang lain yang diutus Tuhan untuk memberikan pertolongan bagi manusia dalam jalan menyelamatkan diri mereka dari berbagai bahaya yang akan menyesatkannya. Agama Islam yang disampaikan Nabi Muhammad S.A.W. adalah mengandung berbagai ajaran yang memberikan pertolongan kepada mereka.

Nabi Muhammad S.A.W. sebagai seorang Nabi yang datang sesudah Yesus, adalah seorang pembela dalam suatu perkara dihadapan hakim. Nabi Muhammad S.A.W. akan menjadi pembela bagi manusia dihari akhirat dalam pengadilan di Mahkamah Ilahi. Pembelaan itu disebut dengan “syafa’at“. Dalam ajaran agama Islam disebutkan satu diantara tugas Nabi Muhammad s.a.w. ialah Pemberi syafa’at dan Pembelaan bagi manusia dihadapan Pengadilan Ilahi dihari akhirat.

Karakter dan sifat yang disebutkan dalam nubuatan itu sangat sesuai kepada Nabi Muhammad S.A.W. sebagaimana berikut:

Yesus menyebutkan Penolong yang lain itu, “menyertai kamu selama-lamanya” (Yoh. 14:16). Ini menyatakan bahwa Penolong itu adalah nabi yang terakhir yang tidak ada Nabi baru yang akan datang kemudiannya. Dengan demikian jadilah agama dan ajaran yang disampaikannya menjadi petunjuk yang menyertai manusia selama-lamanya, yaitu hingga hari kiamat. nubuwat ini sesuai kepada Nabi Muhammad S.A.W., karena ia adalah nabi yang terakhir (khaatam al-nabiyyiin) lihat QS. Al Ahzab :40.

Penolong itu disebutnya: “Roh kebenaran” dan “Roh Kudus” (Yoh. 14:17 dan 26). Menurut Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 87 dan 253, Nabi Isa telah diberi Tuhan kekuatan dengan Roh Kudus, artinya Roh Suci. Menurut tafsiran kaum muslimin Roh Kudus itu ialah malaikat Jibril. Maka penolong itu disebut Roh Kudus artinya ia disertai malaikat Jibril yang senantiasa menyampaikan wahyu kepadanya. inipun sesuai kepada Nabi Muhammad S.A.W., dimana malaikat Jibril senantiasa menyampaikan wahyu kepadanya.

Yesus menerangkan Penolong itu: “ialah akan menyaksikan dari halku” (Yoh. 15:26). Sifat ini sesuai kepada Nabi Muhammad S.A.W. Ia telah memberikan kesaksian yang sebenar-benarnya tentang hal Yesus dan telah mengkoreksi berbagai ajaran yang tidak benar tentang Yesus. Ia telah menyaksikan bahwa Yesus hanya seorang Rasul kepada Bani Israil, bukan Tuhan, bukan anak Tuhan dan tidak mati disalibkan.

Yesus menerangkan bahwa Penolong itu: “Ialah akan menerangkan kepada isi dunia dari hal dosa dan keadilan dan hukuman” (Yoh. 16:8). Ini menunjukkan bahwa Penolong itu akan menjadi utusan Tuhan kepada seluruh bangsa-bangsa di dunia. Dalam ajarannya akan dinyatakan tentang hal dosa, keadilan dan hukuman. Sifat-sifat ini seusai kepada Nabi Muhammad S.A.W. Ia diutus Tuhan menjadi Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia dan rahmat bagi seluruh alam. Allah S.W.T berfirman : “Dan tidak Kami utus engkau (Muhammad) melainkan kepada manusia semuanya untuk memberi kabar gembira dan peringatan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Saba’ 28).

Sabda Nabi Muhammad s.a.w.: “Dan aku diutus kepada manusia semuanya”. (HR. Bukhari).

Yesus menerangkan: “banyak lagi perkara yang Aku hendak katakan kepadamu, tetapi sekarang ini tidak dapat kamu menanggung dia. Akan tetapi apabila Ia sudah datang, yaitu Roh kebenaran, maka Iapun akan membawa kamu kepada segala kebenaran”. (Yoh. 16:12 – 13).

Keterangan ini menyatakan bahwa ajaran yang akan dibawa Penolong itu lebih banyak daripada yang telah diajarkan Yesus. Ajaran-ajaran itu belum dapat ditanggungnya oleh mereka pada zaman Yesus. Keterangan Yesus ini sesuai kepada Nabi Muhammad S.A.W. Ia telah datang membawa ajaran yang amat banyak yang belum pernah diajarkan Yesus sendiri. Ia telah datang membawa manusia kepada segala kebenaran mengenai keimanan, ibadat, hukum, muamalat, hukum perkawinan, hukum pidana, hukum-hukum yang berhubung dengan kenegaraan, hal budi pekerti dan lain-lain sebagainya termasuk ilmu pengetahuan yang baru saat inilah dapat dibuktikan kebenarannya karena perkembangan technologi dan ilmu pengetahuan.

Yesus menyebut Penolong itu: “tiada ia berkata-kata dengan kehendaknya sendiri, melainkan barang yang didengarnya itu juga akan dikatakannya” (Yoh. 16:13). Keterangan ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia tidak berkata-kata dengan kehendaknya sendiri, melainkan barang yang didengarnya sebagai wahyu dari Tuhan, itulah yang dikatakannya. Allah S.W.T berfirman : “Ia (Muhammad) tidak berkata-kata dengan kehendak hatinya. Tiada ada yang dikatakannya itu kecuali wahyu yang diwahyukan kepadanya”. (Surah An Najmi: 3-4).

Yesus menyebut lagi: “dikhabarkannya kepadamu segala perkara yang akan datang””(16:15). Keterangan ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia telah mengabarkan kepada manusia segala perkara yang akan datang,banyak hal yang di urtarakan oleh Nabi Muhammad S.A.W. baik dalam Al Qur’an yang memang wahyu Allah langsung maupun dalam Hadist beliau yang menerangkan tentang masa depan dan perkara-perkara yang baru dapat dibuktikan pada zaman kita sekarang, itu pun belum seluruhnya karena keterbatasan manusia menguraikannya. Dari pada keterangan yang telah diuraikan diatas dapatlah diketahui dengan jelas bahwa nubuatan itu telah sesuai benar-benar kepada Nabi Muhammad S.A.W.

Beberapa penjelasan mengenai hal-hal yang mungkin menimbulkan kesulitan dalam memahamkan ayat nubuatan tersebut:

  • Pada pasal 14 ayat 17 dan pasal 15 ayat 26 dijelaskan bahwa Penolong itu ialah Roh kebenaran. Dan pada pasal 14 ayat 26 dijelaskan lagi bahwa Penolong itu ialah Roh Kudus. Menurut pengertian orang Kristen Roh kebenaran atau Roh Kudus itu adalah satu diantara oknum Tuhan yang dianggap sebagai Tuhan. Dengan demikian nyatalah bahwa kedatangan Penolong itu bukan kedatangan seorang Nabi, tetapi kedatangan Roh Kudus yang menjadi oknum Tuhan.

Mengenai hal ini hendaklah diketahui bahwa menurut orang Kristen Roh Kudus itu disebut juga dalam Alkitab dengan Roh Allah. K. Riedel menafsirkan Roh Allah yang tersebut dalam Matius 3:16 dan Markus 1:10 dengan Roh Kudus. Jadi Roh Allah itu ialah Roh Kudus. Menurut Alkitab Roh Allah itu tidak selamanya ditafsirkan orang Kristen dengan oknum Tuhan. Misalnya perkataan “Roh Allah melayang-layang diatas muka air” yang tersebut dalam kitab Kejadian 1:2, oleh sekelompok penafsir, umpamanya G.V. Rad, mengartikan “Roh Allah” seperti angin ribut yang merupakan ssebagian dari kekacauan.7) Demikian juga ayat-ayat yang berikut menyatakan bahwa Roh Allah atau Roh Kudus itu tidak selamanya ditafsirkan orang Kristen dengan oknum Tuhan:

Dalam Yehezkiel 37:14 diterangkan beribu-ribu orang yang mati telah dihidupkan Tuhan lagi dengan nubuat Yehezkiel. Diberinya urat dan daging, kemudian diberinya nyawa. Seterusnya firmanNya: “Karena Aku akan memberikan Rohku didalam kamu, supaya hiduplah pula kamu“. Yang dimaksudkan dengan “Rohku” disini ialah “nyawa”, bukan oknum Tuhan.

Dalam 1 Yahya 4:1-2, – tersebut:

(1) Hai segala kekasihku, janganlah percaya akan sebarang roh, melainkan ujilah segala roh itu, kalau-kalau daripada Allah datangnya, karena banyak nabi palsu sudah keluar keseluruh dunia.

(2) Dengan yang demikian dapatlah kamu mengenai Roh Allah, yaitu tiap-tiap roh, yang mengaku bahwa yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia, itu daripada Allah.

(6) Kita ini dari pada Allah; dan orang mengenal Allah ialah men-dengarkan kita, maka orang bukan dari pada Allah tiadalah ia mendengarkan kita. Dengan yang demikian dapatlah kita mengenal kita. Dengan yang demikian dapatlah kita mengenal roh yang benar dan roh yang sesat itu.

Ds. Th. B.W.G. Gramberg menafsirkan ayat-ayat tersebut, katanya: “Nasihat Yahya ialah supaya jangan jemaat Kristen menganggap setiap wahyu adalah pernyataan dari pada Allah, yang harus dipercayai. Jangan-jangan dalam jemaat Kristen ada orang yang memakai bahasa gaib, janganlah orang-orang Kristen terus bersedia menerima orang itu sebagai seorang utusan dari Tuhan Allah karena si Iblis gampang merusakkan sesuatu percakapan, sehingga dianggap menjadi wahyu. Jadi jemaat Kristen diajar menguji dan mengira segala wahyu dan nubuat yang akan terbit dalam kumpulannya”.

Dr. Th. B.W.G. Gramberg telah menafsirkan bahwa yang dimaksudkan dengan Roh Allah disini ialah “wahyu” yang disampaikan oleh “seorang utusan dari pada Allah”. Dengan penafsiran ini nyatalah bahwa nubuatan itu telah sesuai kepada Nabi Muhammad S.A.W. Ia sebagai utusan Tuhan datang membawa wahyu dari pada Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril. Wahyu itu adalah “keluar dari pada Allah”, sesuai dengan keterangan yang tersebut dalam nubuatan itu, Yoh. pasal 15 ayat 26.

  • Dalam Yoh. pasal 14:16 disebutkan: “Ia akan mengurniakan kepada kamu Penolong yang lain” dan seterusnya. Menurut ayat ini Penolong itu akan dikurniakan kepada “kamu”. Yaitu kepada murid-murid Yesus. Jadi bukan akan dikurniakan kepada orang-orang yang akan datang kemudian dari pada mereka. Dengan demikian nyatalah bahwa nubuat itu tidak dapat disesuaikan kepada kedatangan Nabi Muhamad s.a.w.

Mengenai hal ini haruslah diketahui bahwa perkataan “kamu” dalam ayat itu tidaklah dimaksudkan khusus kepada mereka yang hidup di zaman Yesus. Perkataan “kamu” yang demikian dapat dijumpai pada tempat-tempat yang lain dalam Injil dan dimaksudkan dengan dia orang-orang yang akan datang kemudian itu. Misalnya keterangan Injil Matius 24:64 yang berikut:

(64) Maka kata Yesus kepadanya: “Seperti kata tuan. Tetapi Aku berkata kepadamu, dari pada sekarang ini kamu anak nampak Anak Manusia duduk di sebelah kanan Kodrat, serta datang diatas awan dari langit”.

Perkataan ini dihadapkan Yesus kepada orang-orang yang ada pada zamannya itu dengan menggunakan kata “kamu”. Mereka yang diajak Yesus berbicara itu semuanya sudah mati. Sudah hampir dua puluh abad lamanya. Sedang mereka tidak melihat Yesus datang diatas awan dari langit. Maka perkataan “kamu” disini dimaksudkan orang-orang yang akan datang pada zaman Yesus datang kelak. Demikian pula perkataan “kamu” pada ayat tadi dimaksudkan orang-orang yang akan datang pada zaman Penolong itu datang kelak. Jadi arti perkataan: “Ia akan mengurniakan kepada kamu”, yaitu kepada manusia atau kepada Bani Israil.

  • Dalam pasal 14:17 diterangkan: “Dunia tiada dapat menyambut oleh sebab tiada ia nampak Dia, dan tiada kenal Dia; tetapi kamu ini kenal Dia”. Keterangan ini menyatakan bahwa nubuat itu tidak dapat disesuaikan kepada Nabi Muhammad s.a.w. karena orang nampak dan mengenal dia.

Mengenai keterangan ini harus diketahui bahwa yang dimaksudkan dengan katanya “tidak mengenal dia”, yaitu tidak mengenal dia dengan sebenar-benar dan sesempurna-sesempurnanya. Perkataan yang seperti ini banyak dijumpai dalam ucapan Yesus. Dalam Matius 11:27 tersebut:

(27) Segala sesuatu sudah diserahkan kepadaku oleh Bapaku, dan seorangpun tiada mengenal Anak itu, hanyalah Bapa saja, dan seorangpun tiada mengenal Bapa itu, hanya Anak saja, dan lagi orang, yang hendak dinyatakan kepadanya oleh Anak itu.

Dalam Yoh. 7:28 tersebut:

(29) ……… Ia menyuruhkan Aku itu ada benar, yaitu yang tiada kamu kenal.

Dalam Yoh 8:19 tersebut:

(19) ….. Kamu tidak kenal Aku, dan Bapakupun tidak. Jikalau kamu kenal Aku, niscaya kamu kenal Bapaku juga.

Dalam Yoh 14:9 tersebut:

(9) Kata Yesus kepadanya: “Hai Pelipus, sekian lamanya Aku bersama-sama dengan kamu, dan tiadalah engkau kenal Aku? Siapa yang sudah nampak Aku, ia sudah nampak Bapa. Bagaiamankah katamu: “Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami?

Dalam ayat-ayat yang diatas ini telah disebutkan berulang-ulang perkataan “kenal”. Yang dimaksudkan dengan kenal disini ialah kenal yang sempurna. Jika artinya ditafsirkan tidak demikian, jadilah semua perkataan yang tersebut pada ayat-ayat tadi tidak benar. Karena orang banyak adalah mengenal Yesus terutama pemimpin-pemimpin Yahudi, imam-imam dan murid-murid Yesus sendiri.

Demikian juga yang dimaksudkan dengan perkataan “tiada ia nampak dia”, yaitu tiada nampak dengan sebenar-benarnya sehingga dapat mengenalinya sungguh-sungguh. Arti yang demikian telah dijelaskan dalam Matius 13:13 – 14 yang berikut:

(13) Oleh sebab itu Aku bertutur kepada mereka itu dengan perumpamaan, karena mereka itu melihat dengan tiada melihat, dan mendegnar dengan tidada mendengar atau mengerti.

(14) Demikian disampaikan bagi mereka itu sabda Nabi Yesaya, bunyinya: “Bahwa dengan pendengar kamu akan mendengar, tetapi sekali-kali kamu tiada akan mengerti. Dan dengan penglihatan kamu akan melihat tetapi sekali-kali tiada kamu nampak.

Dengan penjelasan ini nyatalah bawah nubuatan itu sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Dunia tidak mengenal dan nampak dia, adalah artinya tidak mengenal dan nampak dia dengan sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya.

  • Dalam pasal 14 ayat 17 tersebut: “Ia tinggal bersama dengan kamu, dan Ia akan ada didalam kamu”. Keterangan ini tidak dapat disesuaikan kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Mengenai keterangan ini hendaklah diketahui bahwa yang dimaksudkan dengan “ia tinggal bersama dengan kamu”, ialah pada masa yang akan datang, bukan pada ketika itu. Diatas diterangkan bahwa perkataan “kamu” itu dapat dimaksudkan untuk orang-orang yang akan datang, tidak seharusnya untuk orang-orang yang hadir pada ketika Yesus berkata itu saja. Hal ini dibenarkan lagi oleh keterangan “Aku AKAN mintakan kepada Bapa” (14:16) dan “jikalau tiada Aku pergi, tiadalah Penolong itu AKAN datang kepada kamu” (16:7) dan keterangan yang lain-lain yang menyatakan bahwa Penolong itu belum ada lagi ketika itu, tetapi ia akan datang kemudian.

Dalam Kisah Rasul-Rasul 1:4 – 5 tersebut:

(4) Tatkala Yesus berhimpun dengan rasul-rasul, maka dipesankannya kepada mereka itu jangan meninggalkan Yerusalem, melainkan menantikan Perjanjian Bapa “yang kamu dengar dari Padaku itu”.

(5) Karena Yahya membaptiskan orang dengan air, tetapi kamu ini akan dibaptiskan dengan Rohulkudus didalam sedikit hari lagi.

  • Ayat-ayat diatas ini menyatakan bahwa Yesus memesankan kepada murid-muridnya jangan meninggalkan Yerusalem karena menunggu Perjanjian Bapa yang akan membaptiskan mereka dengan Rohulkudus didalam sedikit hari lagi. Dengan demikian diketahui bahwa Perjanjian Bapa itu akan datang dizaman murid-murid Yesus, tidak akan datang dikemudian itu. Seterusnya diketahui bahwa Perjanjian Bapa itu telah dilaksanakan dengan kedatangan Rohulkudus kepada murid-murid Yesus pada hari Pantekosta, seperti yang diterangkan dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 2. Dengan demikian nyatalah nubuatan itu tidak sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Keterangan diatas ini tidak benar. Kedatangan Penolongan itu tidak dapat dihubungkan dengan roh yang turun merupakan lidah-lidah api pada hari Pantekosta yang tersebut dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 2 itu.

Dalam hal ini hendaklah diketahui bahwa disini terdapat dua perjanjian yang berbeda, yaitu kedatangan Penolong yang lain dan kedatangan Perjanjian Bapa. Kedua-dua perjanjian itu akan dipenuhi. Injil Yahya menjanjikan akan kedatangan Penolong yang lain. Janji ini dipenuhi dengan kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. Kisah Rasul-Rasul pasal 2 menjanjikan kedatangan Perjanjian Bapa yang tersebut juga dalam Lukas 24:49. Perjanjian Bapa itu telah dipenuhi dengan kedatangan roh kepada murid-murid Yesus pada hari Pantekosta.

Pendapat Pihak Kristen dan Penolakkannya

Dalam Izhhar-ul Haqq disebutkan bahwa menurut orang Kristen Penolong itu telah datang pada zaman murid-murid Yesus. Hal kedatangannya itu telah diterangkan dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 2, yaitu setelah Yesus dinaikkan ke langit. Dalam Kisah Rasul-Rasul, tersebut sebagai berikut:

Apabila sampai hari Pentakosta, maka mereka itu sekalianpun berhimpun bersama-sama.

Maka sekonyong-konyong turunlah dari langit suatu bunyi seolah-olah serbu angin yang besar, yang menumpatkan segenap rumah tempat mereka itu duduk.

Maka kelihatanlah kepada mereka itu beberapa lidah seperti api rupanya yang berbelah-belah, dan hinggap diatas tiap-tiap orang itu.

Maka mereka itu sekalianpun penuh dengan Rohulkudus, sehingga mereka itu mulai berkata-kata dengan berbagai-bagai bahasa, sebagaimana yang diilhamkan oleh Roh kepadanya akan bertutur.

 Telaah penolakannya :

Apabila Penolong itu ialah Rohulkudus yang turun memenuhi murid-murid Yesus pada hari Pentakosta, maka ia tidak dapat disesuaikan dengan keterangan nubuatan yang menyebutnya dengan “Penolong yang lain” (14:16). Menurut orang Kristen Rohulkudus itu adalah oknum Tuhan yang satu zatnya dengan Allah Bapa dan Anak Allah. Dengan demikian ternyata bahwa ia bukan Penolong “yang lain”.

Yesus menyebut: “akan mengingatkan kamu segala sesuatu yang Aku katakan kepadamu” (14:26). Apabila yang dimaksudkan dengan Penolong yang lain itu roh yang turun pada hari Pentakosta, maka keterangan ini tidak sesuai kepadanya. Karena tidak ada satu pun juga keterangan dalam surat-surat Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa murid-murid Yesus itu telah lupa apa yang diajarkan Yesus kepada mereka lalu roh itu datang mengingatkannya.

Yesus mengatakan: “ia akan menyaksikan akan halku” (15:25). Keterangan ini tidak sesuai kepada roh yang turun pada hari Pentakosta itu, karena ia tidak pernah memberikan kesaksian mengenai Yesus dihadapan seorang jua. Dan murid-murid yang dituruni roh itu tidak pula memerlukan penyaksian mengenai hal Yesus karena mereka lebih dahulu telah mengenalnya sebelum roh itu turun kepada mereka. Seterusnya roh itu tidak pula datang memberi kesaksian kepada orang banyak yang tidak mengenal Yesus. Adapun Nabi Muhammad s.a.w. maka ia telah memberikan kesaksian yang selengkapnya tentang hal Yesus.

Yesus menerangkan: “jikalau tiada Aku pergi, tiadalah Penolong itu akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan menyuruhkan dia kepadamu” (16:7). Keterangan ini menyatkan bahwa kedatangan Penolong itu dihubungkan dengan kepergian Yesus. Apabila yang dimaksudkan dengan Penolong itu ialah Roh Kudus seperti yang ditafisrkan orang Kristen, maka roh itu telah pernah datang kepada rasul-rasul dihadapan Yesus ketika ia menyuruhkan mereka ke negeri-negeri Israil (Matius 10:20). Dengan demikian ternyata bahwa kedatangan roh itu tidak memerlukan Yesus harus pergi dahulu. Maka nyatalah bahwa Penolong itu bukan roh yang turun pada hari Pentakosta tersebut.

Yesus berkata: “Banyak lagi perkara yang Aku hendak katakan kepadamu, tetapi sekarang ini tiada dapat kamu menanggung dia” (16:12). Keterangan ini menolak bahwa yang dimaskudkan dengan Penolong itu ialah roh yang turun pada hari Pentakosta tersebut, karena roh itu tidak ada menambah satu pun jua ajaran yang tidak dapat ditanggung mereka pada zaman Yesus. Bahkan sesudah turun roh itu, telah dihapuskan berbagai-bagai hukum Torat dan dihalalkan berbagai-bagai makanan yang haram.

Dari pada keterangan diatas jelaslah bahwa nubuatan itu tidak dapat disesuaikan kepada roh yang turun pada hari Pentakosta seperti yang diceritakan dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 2 yang telah disalinkan diatas.

Perhatian: Nubuatan mengenai kedatangan Nabi Muhammad S.A.W. selain dari pada yang tersebut diatas masih banyak lagi dijumpai didalam Injil dan kitab-kitab Perjanjian Lama. Keterangan mengenai itu dapat dibaca dalam Izhhar-ul Haqq 2:131 – 166, Al Jawabus Shahih 3:299 – 322; 4:1 – 22 dan lain-lain.

Kesimpulan

Dari apa yang telah kita telaah secara panjang lebar yang saya ambil dari berbagai sumber dan referensi tadi, utamanya dari Al Qur’an dan Hadist serta dari Al Kitab dan pemikiran serta tulisan para sarjana baik dari internal Kristen maupun dari eksternal Kristen, jelaslah bahwa Nabi Muhammad S.A.W adalah penyempurna dan penggenap Risalah Tuhan, walaupun tidak semua sarjana Kristen dapat menerima dan berlaku objektif terhadap bukti-bukti yang ada, karena memang janji Tuhan bahwa Dia akan membiarkan orang yang memilih untuk tetap dalam kesesatan, sehingga tidak akan dibukakan mata, hati dan pendengarannya atas kebenaran bahkan hatinya dibuat mati dan gelap tidak bercahaya.

Adapun apa yang disimpulkan oleh pembuat video tersebut diatas yang hanya mendasarkan pada QS. Az Zuhruf ayat 61 dan menggunakan nama Nabi Muhammad dengan mengatakan bahwa penggenap dan penyempurna misi Tuhan adalah Yesus tanpa dalil-dalil yang jelas dan nyata (karena memang tidak di ungkap dalam video tersebut) adalah merupakan kebohongan yang nyata.

Contoh kebohongan yang nyata berikutnya setelah mengatakan bahwa risalah yang dibawa Nabi Muhammad S.A.W tidak selesai adalah statement “Kita semua tahu bahwa Yesus dikenal dalam Al Qur’an, Dia adalah pencipta, Dia punya kuasa atas kematian, atas hidup dan pemulihan, atas alam bahkan segalanya, Dia satu-satunya yang lahir diluar kesakitan, dan dia juga bukan diciptakan dari debu tanah, bahkan Al Qur’an telah membandingkan Yesus dengan Adam bahwa Dia berasal dari debu, tapi dia (Muhammad) lupa dengan kontradiksinya sendiri bahwa Yesus bukan dari debu tanah, karena yesus adalah kalimatullah / firman Tuhan, yang diberikan kepada maryam dari atas”.

Perihal ini akan saya bahas satu persatu pada kesempatan berikutnya, namun demikian kepada rekan-rekan dari kalangan Kristen saya persilahkan untuk membuktikan atau menunjukkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad S.A.W. yang membenarkan statemen si pembuat video atau orang yang menerjemahkan video tersebut khususnya yang saya beri tanda kutip.

Referensi :

–          Al Qur’an dan Hadist.

–          Tafsir Ibnu Katsir.

–          AlKitab Terjemah LAI th. 2001.

–          Abujamin Roham, Antara Bible dan Al Qur’an.

–          Bekker, Sejarah Kerajaan Allah I, BPK Jakarta.

–          Bavinck, Sejarah Kerajaan Allah II, BPK Jakarta

–          Verkuyl, Samakah Semua Agama ?, BPK Jakarta.

–          Karen Armstrong, Muhammad: Sebuah biografi Nabi.

–          David Benjamin Keldani, Muhammad dalam dunia Alkitab.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s