Hatta P. Achmad Saputra

Home » Article » Gerakan Salafy

Gerakan Salafy

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 1,245 other followers

Salafi

Telaah Singkat Upaya Pemurnian Islam

Gerakan pembaharuan atau purifikasi atau Tajdid dalam istilah agama merupakan fenomena penting dalam sejarah pemikiran dan gerakan Islam, ketika pada suatu masa dianggap telah terjadi banyak “penyimpangan” baik dalam hal moralitas atau akhlak, pemahaman keagamaan maupun dalam praktek ibadah atau ritual. Hal ini peyebab terjadinya kemerosotan agama dan masyarakat Islam sehingga diperlukan gerakan yang massive untuk pemurnian agama dari segala bentuk penyimpangan, pengaburan dan pengotoran yang menjangkiti umat Islam.

Sejarah Islam mencatat gerakan – gerakan tajdid yang muncul pertama kali ialah gerakan Hanbali atau Ahmad bin Hanbali yang dipelopori oleh Abu Muhammad Al Barbahari, gerakan ini gemar menggunakan istilah Idjtihad, sangat anti syirik dan bid’ah serta ingin mengembalikan pemahaman serta praktek agama kepada sumber aslinya yaitu Al Qur’an dan Hadist.
Kondisi umat pada masa itu diwarnai dengan penyimpangan – penyimpangan diantaranya mengenai Aqidah yang pada masa itu terpengaruh oleh filsafat Yunani yang kemudian muncul pemahaman dalam bentuk Ilmu Kalam dan Falsafah yang dilakukan oleh aliran Mu’tazilah dan Asy’ariyah, kemudian penyimpangan dalam bentuk bid’ah dan khurafat sehingga lahirlah bentuk – bentuk ritual yang keluar dari ajaran Islam murni, yang banyak dilakukan oleh kalangan syi’ah pada masa itu.

Gerakan tajdid ini lahir pada awal abad ke 10 hijriah dan menyerukan perlawanan terhadap segala bentuk penyimpangan tersebut dengan cara kembali kepada aqidah Salaf.
Setelah itu gerakan tadjid yang dipelopori oleh Imam Ibnu Taimiyah (1263-1328) di Damaskus, Imam Ibnu Taimiyah sendiri merupakan penganut paham atau mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, kemudian gerakan Imam Ibnu Qaiyim Al Jauziyah salah satu murid Imam Ibnu Taimiyah (1292-1350), kemudian Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1787) atau yang dikenal dengan Gerakan Wahhabi, kemudian Jamaludin Al Afghani (1838-1897), Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905), Muhammad Rasyid Ridho (1856-1935), dan gerakan tadjid di India yang di pelopori oleh Sayid Ahmad Khan (1817-1898) yang kemudian mempengaruhi lahirnya pergerakan – pergerakan di Indonesia seperti Gerakan Paderi, Sumatra Thawalib, Al Irsyad, Muhammadiyah oleh KH. Ahmad Dahlan dan Persatuan Islam (PERSIS), secara keseluruhan gerakannya sejalan dan dinamakan “Aliran Salafi” atau sering juga disebut dengan “Aliran Wahhabi” meskipun istilah tersebut kurang tepat.

Apa sesungguhnya “Aliran Salafi” atau Gerakan Salafiyah itu ?

Sebelum membahas Gerakan Salafiyah ada baiknya kita mengenal dulu pengertian kata Salaf atau Salafy, penggunaan Istilah Salaf ini sangat sulit untuk diketahui kapan pastinya, namun istilah ini tidak bisa dilepaskan dengan istilah yang dikenal luas dikalangan umat Islam yaitu “Salafus Shalih” atau yang dimaksud dengan “pemahaman, pemikiran dan jalan yang ditempuh para Sahabat Rasulullah dan ulama – ulama terdahulu yang terdekat dengan zaman Rasulullah”, dan sebaliknya ada istilah “Ahlul Khalaf” yaitu pemahaman, pemikiran dan jalan yang ditempuh oleh ulama – ulama terkemudian atau ulama – ulama yang hidup setelah zaman para salafus shalih.

Para ulama besepakat tentang Salafus Shalih ini adalah zaman atau kurun 300 tahun terhitung sejak zaman Rasulullah S.A.W. berdasarkan hadist Rasulullah yang berbunyi : “Sebaik – baik kamu adalah kurunku kemudian yang berikutnya kemudian yang berikutnya lagi.” (HR. Bukhari Muslim). Kandungan dari hadist tersebut menerangkan kepada kita bahwa kondisi umat muslim yang terbaik adalah pada masa Rasulullah hidup kemudian pada masa Sahabat dan kemudian pada masa murid – murid sahabat atau yang sering kita dengar dengan istilah Tabi’in dan Tabiut Tabi’in.
Jika dihitung siapa saja orang yang termasuk dalam ketiga keturunan tersebut maka hanya termasuk sahabat nabi seperti Abu Bakar As Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, dll (± 200-an sahabat yang mendapat kekhususan atau tercatat dalam sejarah Islam sangat dekat dengan Rasulullah S.A.W), kemudian zaman Tabi’in besar seperti Imam Hasan Al Basri, Imam Al Lais, Imam Al Chuzaii, Imam Abu Hanifah, Tabi’in kecil seperti Imam Malik dan para Tabi’ut Tabi’in lainnya seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Al Bukhari serta pengarang Kitab Enam (Kutubus Sittah) yang lain.

Umumnya mereka yang dianggap Ahli Salaf ialah mereka yang hidup sampai akhir abad ke 3 Hijriyah, sementara istilah Ahli Khalaf disandangkan kepada mereka yang pernah hidup sampai akhir abad ke 4 Hijriyah seperti Imam At Thabari, Imam At Thabrani, Imam Ibnu Hibban, dan Imam Ad Daruqutni.

Generasi setelah itu dimaksukkan dalam kategori Ahli Taqlid, sementara istilah untuk para Ahli Fiqih adalah golongan Mu’taqaddimin dan golongan Mu’taakhirin.
Tidak ada suatu garis pemisah yang tegas yang menunjukkan adanya golongan tersendiri dari apa yang dimaksud sebagai Ahli Salaf melainkan karena kelebihannya terutama dalam hal ke shalihan dan ketaqwaannya dalam beribadah, dalam ketakutannya berbuat dosa baik dosa kecil apalagi dosa besar, mereka menghindari melakukan penafsiran – penafsiran terhadap hal – hal yang berada diluar Al Qur’an dan As Sunnah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Ahli Salaf bukanlah aliran Mazhab tertentu melainkan istilah yang disandangkan kepada para Sahabat Nabi beserta pada ulama – ulama terdahulu yang berusaha mengikuti pola dan tingkah laku hidup Rasulullah S.A.W. secara utuh baik dari golongan Muhajirin maupun Anshar, mereka yang didalam setiap urusannya bersatu padu dengan jama’ah dan setia mengikuti sunnah – sunnah Nabi besar Muhammad S.A.W. secara garis besar istilah Ahli Salaf disandangkan kepada generasi awal – awal Islam atau masa dimana Islam masih murni terutama dalam hal Aqidah, Akhlak dan praktek ibadah.

Merujuk pada pengertian Ahli Salaf atau Salafus Shalih maka gerakan – gerakan Salafiyah yang lahir pada awal – awal abad ke 10 Hijriayah sebagaimana tersebut diatas merupakan gerakan yang ingin mengembalikan Islam kepada sumber aslinya yaitu Al Qur’an dan Al Hadist terutama dalam hal Aqidah, Akhlak dan praktek ibadah dengan meninggalkan pertentangan mazhab dan praktek ibadah yang penuh dengan Tahayul, Bid’ah dan Khurafat.

Gerakan Salafiyah inilah yang sering disebut dengan gerakan pembaharuan (At Tadjdid fil Islam) atau purifikasi yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Reformisme, gerakan seperti ini akan terus lahir dan berkembang pada setiap zaman ketika cahaya Islam terkontaminasi kemurniannya. Salah satu yang menjadi ciri bagi gerakan ini ialah menolak Taqlid dan menerima Idjtihad dalam persoalan hukum, Ibadah dan praktek keber-agama-an.

Taqlid dalam istilah agama adalah sikap menuruti saja hasil pikiran seorang ulama, Ustadz maupun Imam Mazhab tanpa mau mencari tahu sumber atau dasar hukum ulama tersebut dalam mengambil keputusan atau fatwa hukum, dengan istilah lain ialah beribadah, beramal hanya mendasarkan perkataan ulama saja tanpa merujuk kepada dalil (nash) Al Qur’an dan Al Hadist.

Dalam hal keputusan terhadap perkara yang tidak terdapat dalilnya secara jelas maka gerakan Salafiyah ini menekankan kepada Idjtihad atau langkah yang di tempuh dengan cara mengambil pengertian atau pemahaman berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadist atau sekurang – kurangnya memahami sumber suatu hukum dengan cara Idjma’ dari para sahabat Rasulullah, atau dengan cara Qiyas yaitu melakukan perbandingan hukum, Istihsan yaitu memilih suatu hukum yang lebih kuat dan lebih cocok pada suatu zaman dan Mashlahatul Mursalah yaitu mendasarkan pertimbangan hukum kepada kemashlahatan ummat.

Dimasa kehidupan para Sahabat tidak ada mazhab, mereka mengamalkan sendiri segala peraturan yang terdapat dalam Al Qur’an menurut idjtihadnya masing – masing, sementara lahirnya system ber-Mazhab jauh sesudah meniggalnya Rasulullah yaitu sekitar dynasti Bani Umayyah dan Bani Abbas, dimana terdapat ulama – ulama yang menetapkan hukum – hukum yang diperlukan ketika itu. Namun karena metode pengambilan keputusan hukum berbeda – beda karena berlainan cara pandang dalam memahami maksud dari Al Qur’an terutama dalam hal – hal yang pelik dan sumber hadist yang beragam yang terkadang bertentangan secara makna (matan) karena belum mapannya Ilmu Hadist ketika itu ditambah dengan kepentingan rezim penguasa dan partai politik yang kala itu sudah menjamur ikut mempengaruhi dalam pengambilan keputusan hukum sehingga terjadilah produk hukum yang berbeda – beda dan melahirkan mazhab – mazhab dengan para imamnya yang diberi gelar berdasarkan ilmunya “Mudjtahid Muthlaq” untuk seluruh hukum syara’ seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Annas, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Al Auza’i Daud Zhahiri, Imam At Thabari, Imam Dja’far Ash Shiddiq, namun demikian semua para Imam tersebut tidak pernah memutlakkan akan kebenaran keputusan hukum mereka dan mereka pun menekankan agar para pengikutnya tetap mencari dasar hukum yang lebih kuat dan berfikir secara sempurna, sebagaimana selalu mereka tuliskan dalam kitab – kitab syara’ mereka.

Karena perkembangan politik yang tidak sehat pada waktu itu akibat dari perubahan sitem ketatanegaraan yakni perubahan dari system ke khalifahan menjadi system dinasti yang feodalistis. Berkembanglah perbedaan yang tadinya hanya perbedaan pendapat biasa menjadi pertentangan faham tentang konsep kepemimpinan dan menjadi dasar perpecahan serta perang saudara. Kemudian perbedaan pendapat berkembang dikalangan umat menjadi perpecahan di bidang pemahaman dan penalaran aqidah serta nilai – nilai syari’ah, mulailah para pengikut Imam – imam saling menyalahkan sampai pada tingkatan peng-kafiran sesama saudara muslimnya. Perkembangan suatu penafsiran tidak lagi tergantung kepada kebenaran objektif dari penafsiran tersebut, tetapi lebih banyak tergantung kepada kedudukan politis dari penafsir. Penanding suatu pendapat yang tidak beruntung dalam mendapatkan dukungan politik dari penguasa yang sudah tidak Islami akan menanggung resiko yang sangat mengerikan dalam bentuk penyiksaan yang luar biasa, dicabutnya hak menyatakan pendapat bahkan sampai harus kehilangan nyawa.

Pada pertengahan abad ke 7 Hijriyah atau abad ke XIII Masehi kota Baghdad diserbu oleh tentara mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan, sejarah mencatat bahwa penyerbuan yang dilakukan oleh bangsa mongol adalah penyerbuan yang sangat kejam dan merusak, membinasakan seluruh kebudayaan Islam yang telah dibentuk berabad – abad, Hulagu khan menggunakan ulama –ulama Islam untuk mengeluarkan fatwa – fatwa yang merugikan Islam, sehingga para ulama – ulama tersebut mengeluarkan fatwa bahwa pintu Idjtihad telah tertutup dan menganggap cukup beramal, beribadah dan bermuamalat dengan peraturan – peraturan yang telah ditetapkan oleh Imam – Imam mazhab yang empat yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan hanbali.

Demikian sedikit gambaran mengenai dinamika dan pergumulan yang terjadi baik internal umat Islam maupun pengaruh dari eksternal umat Islam yang terus menerus menjadikan dunia Islam terperosok kedalam titik terendah pasca kejayaannya, sehingga satu persatu negeri dan umat Islam jatuh ke bawah kekuasaan penjajahan oleh bangsa kafir. Namun demikian sebagaimana telah diterangkan diatas bahwa akan selalu ada gerakan – gerakan pembaharuan yang lahir dalam rangka menyelamatkan agamanya dari kehancuran dan kontaminasi negative sebagaimana di sinyalir dalam hadist Rasulullah bahwa akan ada pembaharu – pembaharu agama lahir setiap 100 tahun.

Diantara pembaharu – pembaharu pembangkit jejak salaf atau pelopor gerakan salafy ialah mereka – mereka yang telah saya sebutkan di atas. Menarik untuk didalami mengenai sepak terjang dan pencerahan pemikiran yang telah mereka lakukan berjasa besar bagi kebangkitan dunia Islam hingga hari ini.

Sumber bacaan :
– Mughni, Syafiq A, Prof, Dr, “Nilai – Nilai Islam Perumusan Ajaran dan Upaya Aktualisasi” (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001)

– Atjeh, Abu Bakar, Prof, Dr, “Salaf As Shalih Islam Dalam Masa Murni” ( Jakarta : Permata Djakarta, 1970)

– Atjeh, Abu Bakar, Prof, Dr, “Salaf Muhyi Atsaris Salaf Gerakan Salafiyah di Indonesia” ( Jakarta : Permata Djakarta, 1970)

– Abdulrahim, Muhammad Imaddudin, Prof, Dr, “Kuliah Tauhid” (Jakarta : Yayasan Pembina sari Insani (YAASIN), 1993)

– Yatim, Badri, Dr, MA, “ Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II” (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2000)


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s